Friday, February 5, 2016

menertawakan bali dari kuta hingga eropa

Ini adalah salah satu tulisan tentang tokoh kartunis Bali yang saya suka. Hasil karya seninya sangat hebat. Saya senang sekali berkesempatan bertemu dan mewawancarinya, beliau orang yang sangat ramah dan baik sekali meluangkan waktunya untuk membagikan pengalamannya, di tengah kesibukannya mempersiapkan pameran di Australi.

Ini adalah kisah perjalnan hidupnya jatuh bangun hingga menjadi seorang maestro. Yang dia miliki adalah keyakinan dalam berkarya seni dan kepedulian sosial terhadap perkembangan Bali di era modern ini. Tulisan ini untuk halaman Persona, Koran Tribun Bali.



Jango Pramartha Bersama “Bog-bog”
Menertawakan Bali dari Kuta Hingga Eropa

Melalui kartun, Jango Pramartha kerap melakukan perjalanan ke luar negeri. Bersama Bog-bog Magazine, pria yang akrab disapa Jango ini sering diundang untuk mengadakan pameran di negara-negara seperti Australia, Belanda, Jerman, dan Perancis.  Bog-bog adalah majalah kartun bulanan yang pertama diterbitkan di Bali pada 1 April 2001. Dalam ekspresi Bali, “Bog-bog” artinya “bohong” sesuai dengan karakter kartun itu sendiri; bohong, tidak masuk akal, tetapi tetap menghibur. Mengangkat fenomena sosial masyarakat Bali dengan gaya-gaya humor kartunnya yang khas, majalah kartun unik ini akhirnya bisa diterima oleh semua kalangan. Perjalanan usaha Jango tidak ditempuh dalam waktu yang instan, ia sudah mulai menjual karyanya sejak 20 tahun yang lalu.

Jango mulai banyak mendapatkan pengakuan karena aktif dalam mendesain di banyak media. Pada 1996, ia mulai membuka usaha di Kuta bernama Jango Pramartha Shop (JOP Shop) di Legian yang kontrak awalnya sekitar 18 juta per tahun. Di Kuta ia senang melihat perkembangan pariwisata dan perubahan sosial yang terjadi, bagiamana orang luar melihat Bali. Di sana Jango mulai menjual karyanya dalam media t-shirt. Kesitimewaan t-shirt Jango diadopsi dari karya kartunnya yang simple namun memilki keunikan dari kaus-kaus khas Bali yang lebih mengandalkan tema beautiful Bali.

Karya dalam kausnya lebih mengarah pada mengkritisi Bali. Banyak orang yang melihat karya ini mengandung sindiran dan membenci Bali, padahal justru kebalikannya, “orang melihat saya membenci Bali padahal tidak sama sekali, saya justru mencintai Bali dengan mengkritisi. Ketika orang mengkritisi itu sangat membangun. Saat itu Bali sedang berada dalam globalisasi, disitulah Bali harus memilki filter yang kuat,” tutur jango. Karya Jango memiliki konsep itu, bahwa tradisi bukan sebuah kemunduran, globalisasi bukan sebuah kemajuan, disitulah karya Jango bermuara.

Akhirnya usaha t-shirt kartun jango berkembang pesat, begitu ramai pembeli sampai di kalangan artis. Banyak media yang melirik sehingga orang datang ke Bali banyak yang membeli t-shirt-nya sebagai oleh-oleh Bali yang wajib di bawa pulang. Orang meilhatnya bukan membeli t-shirt, tapi membeli sebuah ide dan pemahan baru, bahwa disertai dengan art maka memiliki nilai tersendiri, dan itu semua berjalan dengan baik. Dari hasil penjualan, Jango setiap tahunnya selalu melakukan perjalanan ke luar negeri untuk melihat banyak hal yang memberikan inspirasi seperti Belanda, Jerman, Perancis, dan Australia.


Gulung Tikar Saat Krismon
Dari awal membuka usahanya sejak 1995 sampai 2001, semua rasanya masih mudah. Usaha semakin berkembang di Kuta dan mengalami beberapa perpindahan tempat. Dari kontarakan yang harganya Rp 18 juta pertahun, sampai lebih besar menjadi 24 juta hingga 39 juta pertahun. Namun pada 2001, usaha mulai banyak mengalami tantangan ketika krisis moneter melanda.

Masa itu benar-benar seprti badai, sangat menguras pikiran mengenai bagaimana nasib usahanya kelak. Waktu itu harga kontarakn naik menjadi 150 juta pertahun, melihat kenaikan drastis itu Jango tidak bisa melakukan kerjasama lagi. “Di sana masa—masa sulit mulai melanda, saat itu tidak ada perkerjaan,  benar-benar down,” ungkap Jango. Keadaan itu sempat membuatnya bingung apa yang harus dilakukan selanjutnya. Awal 2002 keadaan semakin sulit, toko akhirnya tutup.

Keputusan itu yang membutnya sangat sedih di tengah keadaan tidak ada pemasukan. Jango mencoba menitipkan barang pruduksinya di tempat lain seperti Ubud dan Sanur, namun tidak sebagus seperti waktu di Kuta. Beberapa bulan kemudian terjadi Bom Bali yang dulu sangat dekat dengan tokonya. Seandainya toko masih buka mungkin Jango dan keluarga akan ikut menjadi korban. Dari pemikiran itu  ia memiliki semangat untuk bangkit, dan yakin semua pasti ada hikmahnya.  

 “Mungkin Tuhan mempunyai jalan yang lebih baik untuk saya,” ungkapnya. Sebulan setelah Bom Bali, seorang teman mendatanginya dan mengajak membuat majalah. Masa-masa sedih tidak mempunyai pegangan apa-apa sedangkan ia sudah berkeluarga. Jango belum mengerti tentang majalah, namun ia menyambut dengan baik karna berhubungan dengan kartun.



Gejolak Pergantian Nama
Awal kata Bog-bog berasal dari bahasa Bali yang artinya bohong. “Kartun itu bohong namun menghibur. Saat itu terlibat dalam kartun politik. Politik sifatnya sering bicara jujur tapi banyak bohongnya. Sedangkan kartun memang bohong namun menghibur masyarakat.

Akhirnya lahirlah Bog-bog. Awal kemunculan banyak yang protes, tidak mungkin Bog-bog ini disebut sebagai majalah yang memberikan informasi, orang gak mungkin membeli berita yang isinya bakal dibohongin. Karena bogbog itu bohong dan orang gak mau dibohongi,” jelasnya. Gejolak mulai terjadi, sempat mengalami pergantian nama, namun Bog-bog ternyata mempunyai banyak makna dari berbagai bahasa asing. “Maknanya sangat unik, ada yang bermakna toilet bahkan juga bermakna Tuhan. Justru kita harus membut nama yang unik sesuai pakem masa saat itu. Intinya kita coba aja, dan akhirnya masyarakat menyambut,” ungkap Jango.  

Dengan ide yang fungky, bog-bog masih gratis, namun ternyata semua orang dari semua kalanngan ikut mengambil sehingga cepat habis dan banyak juga yang tidak kebagian. Dari situ Jango memilki semangat yang baru, melihat banyak orang  yang menyukainya, sampai ke hotel-hotel.  Dan sudah dikenai harga 5000 per biji. Setelah Bog-bog mengalami kemajuan dan bisa berjalan, naluri menjual t-shirt kembali muncul. Pada 2005 Bog-bog  mengalami perkembangan dan memiliki artshop sendiri.

“Konsep Bog-bog mentertawakan Bali  melihat Bali seperti diri sendiri, dan harus siap mengkritisi diri sendiri. Banyak masyarakat yang memberikan pendapat untuk mengeraskan karya-karya saya dalam mengkritisasi pemerintah. Saya hanya menggambarkan kepada masyarakat kalau disekitar kita sedang terjadi banyak perisitiwa, masyarakat memilki pandangan tersendiri. Saya tetap menjadi politikal kartun kalau di media, untuk mengasah intelektual dan belajar terus dalam berkesenian, namun untuk Bog-bog spesial art and culture dan social change yang ternyata gk ada habis-habisnya,” ungkapnya.



Tidak Sulit Mencari Uang Dengan Seni

Jango ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa dengan karya yang serius orang bisa hidup. Bekerja keratif tidak ada habis-habisnya karena ide bisa bermunculan di banyak tempat. “Jangan takut dulu berbicara kreatif . Saya tidak pernah tahu setelah Bog-bog ada, saya pikir saya tidak akan bisa berkesenian lagi. Ternyata sangat bisa karena seni  bernilai luar biasa,” jelasnya.

Sampai sekarang, jango mempunyai karyawan sekitar 22 orang. “Banyak yang berfikir sulit mencari uang dengan seni, sementra saya merasakannya sendiri itu sangat bisa. Banyak teman seni yang memberikan dukungan dan semangat. Banyak sekali hal seni yang mencangkup semua lini terutama pariwisata,” jelas Jango. Banyak orderan dari hotel termasuk membuat sketsa-sketsa.

Dari pengalaman ini Jango ingin menyampaikan bahwa urusan kreatifitas sangat luas sekali termasuk dalam hal ekonomi. Kreatifitas tidak selalu ikut mengalami krisis seperti ekonomi. “Tidak usah takut memulai usaha, apapaun yang kita kreasikan akan bisa berkembang, orang sering takut dalam memulai. Seperti kata Bob salinu bahwa bisnis adalah sesuatu yang harus dimulai, bukan sesuatu yang hanya dipikikan, harus ada kberanian, sampai kita menjalaninya” jelasnya. 

Jango sangat bersyukur sekarang sudah bisa berbagi dengan orang lain dan membuka lapangan pekerjaan. Pada 2013 ia mendapatkan pengharggan dari MURI sebagai majalah kartunis budaya yang menggunakan bahasa inggris pertama di Indonesia. “Seluruh Indonesia banyak yang pesan, justru sekarang banyak melakukan pameran produk di luar negeri. Pada tahun ini mendapatkan undangan bergengsi dari frankfurt bookfair dan pameran di Aaustralia.

Pengharggan diberikan oleh Pemerintah Kota Denpasar di bidang budaya dan dari Bank Lestari di bidang entrepreneurship 2015, pengharggan terbaru dari Herawan Kertajaya  pada Juli 2015 di bidang enterpreneurship di sektor ekonomi kreatif.

Penting Membina Hubungan Dalam Usaha

Selain berjualan, Jango selalu memberikan atmosfir positif terhadap orang-orang yang datang ke Bali. Bule yang datang ke bali diberikan pemahaman culture lewat kartun. Setiap tahun sekitar 4 kampus internasional yang berkunjung, Jango mengajak mereka ke rumahnya yang masih tradisional. “Dari situ mereka bisa melihat rumah Bali yang masih ada lumbung, dan bangunan kuno, saya sangat mempertahankan itu, saya jelaskan tentang khas rumah bali dari setiap dekorasi kamar orangtua sampai bangunan tempat orang meninggal dan potong gigi.

Mereka yang datang itu tidak terlepas dari hubungan yang saya bina saat berada di luar bersama orang-orang penting seperti antropolog dan profesor, karena hubungan dan jaringan itu sangat penting. Mereka mengatakan kalau ke bali ingin melihat culture, perubahan sosial, bisa menghubungi Jango dengan Bog-bognya, jelasnya. Setalah mendapatkan gambaran tentang culture Bali, orang akan mudah memahami Bog-bog, dengan begitu mereka tertarik sehingga banyak yang membeli beberapa produk mulai dari majalah, t-shirt, postcard, gantungan kunci, pin, topi, tas, dll.

Mahasiswa yang berkunjung bukan hanya dari universitas dalanm negeri seperi ITB dan Petra, tapi juga institusi luar negeri seperti SIT, Minnesota University, Holland School, The University of Western Australia. “Dalam ekonomi keratif, karya itu memilki energi. Omset mencapai  150 juta perbulannya, karya bisa berputar hingga mencapai sedemikian. Harus bisa berkembang lagi,” ungkapnya.

Untuk kedepannya Jango berencana akan membut kedai kartun, diamana orang berkunjung bisa dibuatkan sketch wajahnya. Banyak hal yang bisa dikerjakan, termasuk mengajak anak muda ikut berkarya. Sharing bagaimana karya seperti kartun akan bernilai tinggi ketika memilki roh yang kuat, hidup di masyarakat, ikut merasakan perubahan sosial. Karya tidak harus rumit, bentuk simple namun bisa menyentuh hati.

“Saya sangat bersemangat ketika ada mahasiswa dtang, bagaiamana mengajak anak muda berfikir kreatif tentang ide. Ketika kita jalankan ide kreatif itu tetap harus ada manajemennya. Sehingga hasilnya akan tertata dengan baik,” jelas Jango. Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika mengadakan pameran produk ke luar pertama kali pada 1994, 20 tahun kemudian Jango diundang kembali untuk Pameran pada 2013 di tempat yang sama di Fremantle Art Centre.

“2011 ada pameran di Jerman tema globalisasi. Tiba-tiba sepulang dari Jerman ada 2 bule datang yang merupakan kurator dati Perth dan ketua Fremantle Art Centre dengan informasi bahwa 20 tahun lalu saya pernah pameran di sana. Kemudian  mengundang saya melakukan pameran lagi, saat itu saya mengajak anak-anak Bog-bog ke sana dan mereka  melihat bagaiman humor di kancah internasional,” ungkap Jango.


Kartun Mengantarnya ke Australia
Sedari kecil Jango senang menggambar, kemudian setelah duduk di bangku SMA. Mulai aktif dalam pembuatan majalah pertama kali di sekolah. Bersama teman-teman membuat majalah di SMA 3 Denpasar pada 1982. Dari keaktifan membuat majalah, Jango bergaul dengan orang-orang yang berkecimpung di media. Pada 1982, Jango mengikuti program pertukaran pemuda ke Melbourne Australia yang diselenggarakn oleh institusi di sana. Pada perjalanannya ke Australia itulah Jango banyak terlibat pada kegiatan kesenian.

Selama 2 bulan Jango mendapat inisiasi bahwa  seni itu sangat menjanjikan. Jango melihat banyak sekali hal yang memberikannya inspirasi dan pemahaman baru tentang seni. Selama 2 minggu di melbourne, ia banyak menghabiskan waktu di museum, di sanalah Jango mendapatkan inkubasi tentang art. Tamat SMA ia langsung yakin melanjutkan kuliah di Udayana jurusan Desain Grafis.

Ia merasa selama ini bakat yang ada ditangannya mengarah ke kartun. Di kampus ia membuat studio yang bernama xyz studio yang bermakna semangat anak muda yang tak pernah luntur. Ia bersama temannya sering membuat lomba-lomba seni rupa. Ia membuat gebrakan yang sifatnya seperti pameran kartun pada 1986 yang bertajuk budaya, Bali Dalam Kartun. 

postcard

Beberapa tema seperti reformasi, globalisasi, dan ekonomi, disambut oleh banyak orang. Sampai beberapa waktu Jango aktif di Bali Post. Di sana ia aktif berkarya, hingga hasil kreasi kartunnya dilihat oleh seorang antropolog dari Australia Carol Warren dari Murdoch University yang aktif memantau karya pameran sampai Jango tamat di 1991. “Saya mengirim gambar di Bali post dan beriteraksi dengan orang sastra, di sana yang belajar tentang kedalaman sasrta.

Carol mengajak Jango ke Australia pada 1993 sampai 1995 dan studi di sana. Setiap senin dan kamis jango melakukan presentasi kartun di University of Western Australia, saat itu ada kelas yang bernama Indonesian art and society. Di sana Jango banyak bertemu orang hebat dari Indonesia yang bergerak dalam art seperti Laksmi Pamuntjak, George Junus Aditjondro, dan masih banyak lagi.  

“Saat pengalaman prenstasi itulah, saya melihat kartun sebagai one picture is a thousand words. Hanya sekedar memperlihatkan gambar orang-orang sudah langsung tertawa, tidak perlu banyak bicara,” ungkapnya. Dari situ Jango mendapatka sebuah inisisasi bahwa krtun itu luat biasa. Kebetulan Jango memiliki gaya kartun yang tidak suka banyak bicara, simple but meaningful.

Pada 1995 Jango mulai merintis pameran di luar negeri,  terumata paling sering di Perth, dari Australi sampai ke Belanda dan Perancis. Bergaul dengan orang-orang sastra, Jango belajar tentang kedalaman, dari situlah karya kartunnya memiliki jiwa yang kuat.

menjadi bermanfaat

Ini adalah tulisan terakhir saya untuk Tribun Bali, saya menulis ini ketika saya sudah berada di kampung halaman. Saya sangat mencintai pekerjaan saya sebagai jurnalis, dan saya harus memutuskan untuk resign saat sedang deg-degan menunggu pengumuman beasiswa LPDP, alasan resign yang lain adalah karena saya ingin mengistirahatkan kaki saya yang terluka akibat kecelakaan, dan ada satu hal yang terjadi di keluarga, dan saya harus menyelesaikannya. 

Beberapa hari setelah tulisan ini terbit, saya mendapat email dari LPDP bahwa saya dinyatakan lulus. Tulisan ini juga sangat spesial untuk saya, karena ketika saya melakukan interview dengan Ibu Riniti, esok harinya saya harus balik ke Lombok. Dalam perjalanan pulang kampung itu, handphone saya hilang (tepatnya dicuri). Semua data dan hasil rekaman untuk tulisan ini ada dalam handphone saya. 

Ini adalah tulisan yang saya tulis dengan ingatan-ingatan yang samar dalam perasaan cemas, kehilangan, kecewa, luka dan patah hati. Pertemuan saya dengan Ibu Riniti hingga tulisan ini selesai telah memberikan saya sebuah perjalanan tentang hal-hal seperti keikhlasan, ketulusan, dan kasih sayang. Hal-hal itu tidak terlihat tapi kita tahu itu ada, karna kita merasakannya. :)

Smart Woman
 Luh Riniti Rahayu, Mengajak Perempuan Peduli Politik
Luh Riniti Rahayu adalah seorang aktivis yang peduli terhadap nasib perempuan. Khususnya perempuan Bali. Dosen Fisip  yang akrab disapa Riniti ini mempunyai mimpi agar perempuan Bali bisa hidup dalam keadaan aman dan sejahtera. Karena rasa kepedulian yang tinggi inilah ia mendirikan lembaga Bali Sruti. Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada pendidikan perempuan, khususnya pendidikan politik dan hukum. Sejak 2004, ia bersama beberpa teman aktif merangkul perempuan-perempuan untuk diberikan pemahaman tentang pendidikan politik. Beragam acara seperti seminar dan training kerap diadakan untuk memperkenalkan ilmu politik kepada perempuan-perempuan muda.

“Untuk apa perempuan masuk ke dunia politik? Ini sangat penting untuk dipahami”, ucap ketua LSM Bali Sruti ini. Riniti mengibaratkan Gedung DPR itu sama halnya dengan Rumah Tangga. Dalam Rumah Tangga ada ayah dan ibu, dalam hal ini tidak mugkin laki-laki bekerja sendiri dalam Rumah Tangga tersebut tanpa didampingi oleh perempuan. “Jadi yang mengatur kesejahteraan di negara ini harus ada kaum perempuan”, jelas ibu 3 anak ini.

Dalam training maupun seminar, Riniti selalu memaparkan beberapa isu penting yang harus diketahui oleh para perempuan khususnya yang akan terjun ke dunia politik seperti caleg perempuan. Menurut Riniti, perempuan harus memahami beberapa hal tentang isu kesehatan reproduksi, kesejahteraan keluarga, kepedulian terhadap anak, serta isu kekerasan seksual. Riniti mengingatkan kepada para perempuan khususnya yang akan menjadi caleg agar punya komitmen yang kuat jika ingin berkipah di dunia politik.

Menurutnya, perempuan yang terjun ke dunia politik masih sangat sedikit. Karena pendidikan politik kepada perempuan masih belum begitu meluas. Hanya beberapa kelompok tertentu saja. Beberapa hambatan seperti di walayah pelosok sering terjadi kekerasan terhadap perempuan, dikarenakan di pedesaan perempuan belum ada pengetahuan tentang hukum maupun politik. Ia berharap pendidikan politik dan hukum akan membantu kaum perempuan untuk mengetahui apa yang menjadi hak mereka dan  bagaimana memperjuangkannya.

LSM Bali Sruti yaang dipimpinnya saat ini kerap diundang di acara-acara dan media cetak maupun elektronik. Acara diskusi juga sering terjun langsung menyentuh mahasiswa mahasiswi. Tidak hanya menyangkut masalah politik untuk perempuan, tapi juga beragam masalah sosial lainnya yang saling menyangkut satu sama lain. Seperti diskusi tentang kekerasan terhadap anak, rokok, kesehatan, bahkan isu-isu terkini dalam hal ekonomi seperti masalah kebutuhan pokok dalam Rumah Tangga.


Peduli Hak-hak Perempuan Bali
Riniti sangat peduli terhadap status perempuan dalam kebudayaan Bali. Saat ini ia sedang memperkenalkan hak perempuan Bali yang menyangkut warisan. Menurutnya, perempuan Bali dalam lingkup pembangunan sangat bisa diandalkan. “Laki-laki dan perempuan dilahirkan dengan cara yang sama, mereka memiliki tingkat kecerdasan yang setara. Hal ini harus diperhtikan dalam pembangunan. Oleh karena itu sangat pantas perempuan diberi hak dan kesempatan yang sama dalam segala hal,” jelas Riniti. 

Menurutnya, perempuan Bali dalam hak waris harus digali dan dimunculkan kembali, agar perempuan Bali semakin maju untuk kedepannya. Bali Sruti yang ia pimpin akan terus menggali hal ini sehingga kelak bisa dirasakan keseluruh penjuru Bali teruatama ke banjar-banjar dan pemegang kebiajakan sehingga perempuan Bali mendapat kedudukan yang baik dan tidak ada lagi diskriminasi. 

Berbagai usaha akan terus dilakukan Riniti dan kawan-kawan untuk menyuarakan keadilan dan hak perempuan Bali. Hal ini mendapat dukungna dari berbgai pihak sehingga seminar dan training maupun workshop kerap dilakukan. Di antara acara-acara yang diadakan bekerjasama dengan MUDP Bali, pakar hukum, dan beberapa lembaga yang bergerak di bidang perempuan. “Kami akan terus melakukan sosialisasi hingga tidak hanya perempuan Bali tapi juga semua masyarakat harus paham tentang hak dan kewajiban.”


Menjadi Bermanfaat
Bagi Riniti, hidup harus bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Ia menikmati kehidupan yang sederhana. Dengan kesederhanaan cukup membuatnya selalu bersyukur akan apa yang ia miliki saat ini, terutama suami dan anak-anaknya yang selalu mendukung setiap langkah yang akan ia ambil dalam berbagi bersama para perempuan. Keluarga adalah hartanya yang paling berharga. 

Riniti sangat bersyukur, karena ia menyadari bahwa banyak perempuan yang masih tidak bisa merasakan keadilan  dan hak-hak mereka dirampas. Banyak diskriminasi terhadap perempuan hingga kehidupan perempuan jauh dari kesejahteraan. Rasa syukur yang ia rasakan menggerakkan untuk berbagi dengan orang lain. Visi dan misi yang ia perjuangkan untuk mengangkat hak-hak perempuan akan terus ia lakukan tanpa henti. 

“Perjuangan ini memang tidak mudah, dan butuh waktu yang tidak cepat, tapi saya yakin hasilnya nanti akan bisa dirasakan oleh generasi penerus kita,” harap Riniti. Ia percaya, harapan ini akan terwujud mungkin berabad-abad nanti, namun yang paling terpenting adalah setiap orang harus bergerak untuk maju mulai dari sekarang.
*terbit di Koran Tribun Bali edisi Minggu 6 Desember 2015

memberi artinya menerima

Memberi artinya menerima, menerima rasa bahagia saat memberi. Ini hal yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Yayasan Peduli Autisme Bali. Awalnya saya hanya lewat saja, tempat itu berada tepat di pertigaan jalan ke rumah kos saya Jln. A. Yani Denpasar, Bali. 

Berhari-hari saya hanya melewati papan nama ini, dan selalu melihat pintu bangunannya yang tertutup dan halaman yang sepi. Mungkin suatu hari nanti saya akan mengetuk pintu yang selalu terutup itu, batin saya. Beberapa waktu berlalu, seorang rekan kerja saya mengabarkan tentang acara yang akan diselenggarakan di ruang anak kanker RSUP Sanglah. 

Saya tertarik untuk ikut meliput, tepatnya ingin berbagi dengan anak-anak kanker ini. Di acara itu, terdapat sejumlah anak autis yang sedang menghibur anak-anak kanker dengan boneka jari yang merupakan hasil karya mereka sendiri. Anak autis menghibur anak kanker, mereka belajar bagaimana saling menguatkan. 

Saya ikut menghibur mereka dengan memainkan gitar mengiringi lagu "Laskar pelangi" yang mereka nyanyikan. Saya langsung bertemu dengan pemilik Yayasan Utisme Bali, Ibu Inayah sapaan akrabnya. Beberapa kali saya diundang untuk mengikuti acara di yayasannya, saya juga berniat untuk volunteer di sana. 

Ibu Inayah adalah seorang mualaf yang sangat yakin dengan kekuatan Tuhan Maha Kuasa. Karena nikmat itu, iya selalu bersyukur dengan cara selalu memberi. Well, memberi adalah memberikan sebagian dari diri kita sendiri untuk orang lain :D


 Smart Woman
Inayah Wyartathi, Mendidik Dengan Kasih Sayang
Inayah Wyartati bukanlah seorang psikolog. Ia hanyalah ibu rumah tangga biasa yang memiliki rasa kepedulian terhadap anak-anak autis. Hal ini yang mendorong dirinya mendirikan Yayasan Autisme Bali dengan Rumah Belajar Autis (RBA) yang bernama Sarwahita. Rumah belajar yang terletak di Jalan Ahmad Yani ini suah berdiri sejak 11 tahun yang lalu.

Penglamannya memiliki anak autis menggerakkan hatinya untuk berbagi dengan orangtua lainnya yang memiliki anak yang sama. Ternyata dengan berbagi, memberikan banyak manfaat bagi orngtua lainnya. Hingga beberapa orangtua mendukungnya untuk mendirikan lembga yang peduli terhadap autis khusunya di Bali. Perempuan yang akrab disapa Ina ini akhirnya mulai bergerak bersama teman-teman lainnya yang juga memiliki anak autis.

“saya berfikir, gimana kalau kita buka tempat sharing, kasian anak-anak, karena banyakjuga orang tua yang tertarik untuk sharing. Akhirnya beberapa orangtua dan seorang guru pikolog seutuju. Kami berangkatkla ke jakarta untuk training basicnya. Karena pada dasarnya, harus tau basic ilmu psikologi,” jelas Ina.

Setelah training di Jakarta, Ina mulai menjalankan yayasan autispada mei 2004. Dari mulai buka awalnya baru 5 anak. Seiring perkembangan waktu, muridnya bertambah menjadi 15 yang saat itu terapinya hanya baru bisa dibuka sore, karena pada saat itu guru-gurunya masih mengajar di tempat lain. Bertambahnya waktu, semakin banyak mendapat kepercayaan dari masyarakat.

Di sela-sela itu, yayasannya juga kerap megnadakan seminar-seminar. “Karena kebetulan, pendiri Mandiga tempat anak saya terapi dulu beberapa di antaranya adalah tamatan psikologi, seorang guru memiliki 2 anak autis, jadi gurunya benar-benar konsen di dunia autis. Mereka adalah orang-orang yang peduli hingga sering keliling memberikan seminar seluruh Indonesia.

Karena orang-orang yang penuh kepedulian ini sangat mendukung kami, hingga mereka mau ke Bali untuk memeberikan seminar yng sesuai dengan kebutuhan orang tua pada saat itu, tentunya seminar tentang masalah autis,” jelasnya lagi.

Seminar sudah diadakan sekitar 5 seminar hingga saat ini dengan tema-tema yang bertahap mulai dari basic tentang autis. Selama mengadkan seminar, yayasan ini banyak mendapat respon masyarakat. Seminar yang benar-benar ditekan dengan harga tidak mahal, “kita berusaha sebaik mungkin, kalau bisa gratis, buat kami harapannya pengetahuan dari acara sminar ini bisa tersampaikan ke masyarakat,” tujuannya semakin banyak yang tau semakin banyak yang mengerti mengenai autis.

Minimal orangtua mulai mau mengajak anaknya konsultasi dan tidak malu bertanya. Kalau dulu orangtua lebih banyak menyembunyikan  karena malu. Ada orangtua yang tidak mengerti dan belum mau mengakui.  Bagi Ina, tujuan diadakannya seminar  yaitu lebih ke pengenalan orangtua supaya lebih mengerti bagaimana menterapi anak. Bahwa menterapi anak bukan hanya di tempat terapi tapi yang terpenting di rumah.

“Untuk merubah anak harus terus menerus, dari situ mereka belajar untuk berfikir, mengubah kebiasaannya setiap hari harus disiplin, konsisten, dan tega. Tiga itu kuncinya”. Disiplin harus diawali dari orangtua, dalam artian harus bisa menerima kondisi anak. Kalau sudah menerima maka kit akan berusaha untuk mencari solusinya. Kalau tidak bisa menerima maka akan selalu ada penolakan, sedangkan usia anak terus bertambah.

Kunci utama adalah orangtua yang hrus bisa menerima dulu. Sehingga orangtua akan mulai bergerak mencari solusi. Kemudian konsisten, jangan pernah berubah, dan tega dalam arti tegas kepada anak dan situasi.


Membangun Dengan Niat Berbagi
Membangun sesuatu pada awalnya sering dihadapkan oleh kendala-kendala. Ketika membangun yayasan autis ini, Ina mendapat kesulitan dalam mencari tenaga terapis yang memang benar-benar yang bukan berorientasi pada uang. Mencari tenaga terapis yang orientasinya gaji  mungkin gampang. Tapi yayasan ini murni dari niat yang memang ingin berbagi.

“Satu sisi saya tidak mungkin tidak membayar, dalam istilah gratis dan guru tidak dibayar. Karena keadaan mereka juga membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di satu sisi, saya tidak tega dengan orangtua anak, memungut biaya besar juga akan membebani orangtua,” ucngkap Ina. Setiap ada permasalahan, Ia selalu berdoa kepada Tuhan.

Ia yakin niat yangbaik akan ada jalan keluarnya, dimudahkan oleh Tuhan, itu yamg Ina yakini, hingga sekarang Ina rasakan sendiri banyak sekali pertolongan. “Banyak permasalahan yang dihadapi anak, intinya yang terpenting adalah kasih sayang orangtua,” jelasnya.

Bagi Ina yang paling penting juga adalah  mencari guru yang benar-benar peduli dengan anak-anak, guru yang menyayangi anak-anak autis ini dengan tulus. Kesulian seperti tempat, yang pada awalnya dibangun sedikit demi sedikit hingga sekarang bisa bertambah, meskipun masih kekurangan ruang. Seiring dengan bertambahnya jumlah anak yang mendaftar.

Setelah sekian lama, semakin tau kebutuhan anak, dengan itu juga metode semakin dikembangkan, begitupula kebutuhan akan fasilitas belajar dan berlatih anak. Perlengkapan alas tulis seperti juga meja dan kursi, alat bantu main anak-anak dengan kondisi anak yang bergerak tidak tentu membuat peralatan cepat rusak.


Belajar Kuat dan Sabar
Yang Ina syukuri, perkembangan untuk pengetahuan orangtua semakin tahun sudah semakin bagus. Banyak yang sudah mengetahui informasi tentang pendidikan anak autis. Orangtua sudah banyak yang semakin terbuka, meski sampai sekarang masih saja ada orangtua yang sulit menerima, bahkan merasa mampu punya uang banyak jadi seolah menggampangkan, menyerahkan sepenuhnya pada guru, padahal yang terpenting adalah orangtua.

“Anak yang berkembang baik, orantuanya berperan banyak, anak yang sulit berkembang akan terliht bedanya peran orantuanya yang masih kurang, ditandai dengan wajah anak yang kosong tidak hidup. Anak autis susah berbicara, kurang kasih sayang semkain merasa sendiri, tetap tidak merasakan kasih sayang yang bisa menghidupkan hati anak”.

Kebahagiaan tak terkira ketika bisa selalu bersyukur. Dengan kondisi penuh keterbatasan ternyata masih banyak yang kurang beruntung, masih banyak anak yang lebih parah. Ketika sudah berusaha dan hasilnya anak lebih baik, itu seperti keberkahan tersendiri. Mendidik anak autis mengajarkannya lebih kuat dan sabar. Proses itu memperkaya dirinya terutama  ketika saling membantu.

Semua orangtua murid menjadi saudara, karena suka duka dilalui bersama, berada pada nasib yang sama memiliki anak autis. “Saya hanya ibu rumah tangga biasa yang berusaha memberikan hal yang bermanfaat, saya selalu mencari apa yang bisa saya lakukan. Karena saya pernah mengalami dan ingin berbagi,” ungkap Ina.  

Ia bersyukur bertemu dengan guru-guru luar biasa dengan total dan tulus menyayangi anak-anak. Semuanya bisa bekerja dengan baik, tanpa mereka Ina bukan apa-apa. Ia bersyukur Tuhan mempertemukannya dengan guru-guru yang tepat.

Meskipun beberapa ada juga yang sulit kemudian tidak bisa melanjutkan mengajar. Setiap ada rejeki lebih, digunakan untuk mentraining guru-gurunya agar menambah pengalaman dan membuka wawasan mereka.


Kebahagiaan Melihat Senyum Anak-Anak
Harapannya, Ina ingin mempunyai wadah untuk menampung bakat-bakat anak-anak dalam satu hasil karya hingga hasilnya bisa dipasarkan. Dengan begitu orang umum bisa menerima mereka dengan hasil karya yang mereka terima dan hargai.

Dengan begitu anak-ana bisa diterima disekolah umum dengan mudah. “Bakat dan minat kita dukung dengna hasil karya, karena itu demi kelangsungan hidup mereka sendiri. Sulit ada yang mengerti mereka, karena sampai sat ini hanya orang-orang tertentu dan terdekat yang bisa berkomunikasi dengan mereka.

Berusaha untuk memberikan lapangna kerja dengan memasarkan hasil karya mereka, biasanya dijual di event-event . Anak-anak akan dlihat skillnya kemudian dikembangkan,” tambahnya. Sekarang sudah ada yang bisa memasak dengan baik, dan itu prestasi yan luar biasa bagi Ina.

Bisa membuat makanan seperti pizza, brownis kukus, dll. Setiap ada anak yang berkembang baik yang terlihat bakat dan minatnya harus langsung dikembangkan dengan pendidikan khusus seperti kursus agar anak semakin berkembang.

Untuk kedepannya, anak-anak diharapkan bisa menghasilkan uang sendiri. Hingga saat ini jumlah muridnya sudah 80 anak, dengan jumlah guru 13 orang. Muridnya bisa lebih banyak, namun kekurangan tempat. “Saya ingin selalu bisa berbuat sesuatu untuk orang lain, usaha yang berguna bagi orang lain.”

Semuanya mengalir begitu saja, bukan sesuatu yang direncanakan secara matang. Semuanya mengalir hingga bisa memberikan manfaat. Bagi Ina, dukanya terututp dengan melihat senyum anak-anak, melihat perkembangan anak-anak semakin baik, itu meberikannya kebahagiaan luar biasa. 


*terbit di Koran Tribun Bali edisi Minggu 29 November 2015

hidup adalah menulis

 
Smart Woman
Kadek Sonia Piscayanti, Menerapkan Literasi Sejak Dini

Kadek Sonia Piscayanti adalah seorang penulis, dosen, dan aktivis pendidikan. Hari-harinya diisi dengan menulis dan mengajar. Perempuan yang akrab disapa Sonia ini aktif mengajar di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Bali, sebagai dosen Sastra Inggris. Saat ini juga sibuk mengurus keluarga dan buah hati Putu Putik Padi (7 tahun) dan Kadek Kayu Hujan (1 tahun 6 bulan). Begitu mencintai dunia sastra, ia sangat menikmati Mengelola komunitas Sastra dan Seni Budaya Komunitas Mahima dan Lembaga Mahima Institute Indonesia yang bergerak di bidang penerbitan dan pendidikan serta penelitian budaya. Perempuan yang lahir dan besar di Bali ini juga merintis rumah belajar Literacy Learning Home yang mendidik anak-anak memahami dan memiliki sikap yang mencerminkan literasi sejak dini.
“Sejak SD sudah dikenalkan kepada puisi oleh guru , dan berlanjut ke lomba mengarang, lomba bercerita, hingga lomba menulis di jenjang pendidikan SMP, SMA, hingga mahasiswa. Di kampus mengikuti berbagai aktivitas kemahasiswaan juga menjadi staf redaksi majalah kampus dan menjadi ketua UKM Teater,  menulis di berbagai media massa baik lokal maupun nasional,” ungkap perempuan yang pernah masuk dalam 15 besar mahasiswa berprestasi tingkat nasional ini.
Beberapa karyanya adalah cerpen, prosa dan puisi, naskah drama dan esai yang dimuat di media lokal, nasional dan internasiona. Awalnya Sonia mengikuti lomba cerpen di Balai Bahasa, dan menjadi juara. Puncaknya juara dua tingkat nasional penulisan cerpen “Karna Saya Ingin Berlari” pada 2005. Setelah itu menerbitkan antologi cerpen pertamanya pada 2007 dengan judul yang sama yang diterbitkan oleh Akar Indonesia. Sejak itu, menulis menjadi bagian hidupnya yang tak terpisahkan. Ia aktif menulis  cerpen di media, di antologi bersama, maupun menerbitkan esai di media nasional. Ia juga beberapa kali diundang menjadi pembicara dan pengisi acara di Ubud Writers and Readers Festival di antaranya dalam tema “Kartini masa Kini” bersama Dewi Lestari (2013).
Selain pencapaian-pencapaian yang kadang dimaknainya sebagai kesuksesan dalam arti fisik, Sonia melihat pengalaman berharganya itu justru ketika menjadi ibu dan menjadi penulis. Tantangannya sangat besar, begitupun menjadi pengajar, menjadi pengelola komunitas, menjadi anggota masyarakat Bali dan menjadi perempuan Bali dalam konteks sosial yang kaya dimensi. Semua itu menjadi sangat berharga baginya.
Menulis adalah dunianya, Sonia akan terus berkarya melalui tulisan yang harapannya bisa selalu memberikan manfaat. Selain itu, kepeduliannya terhadap pendidikan khusunya pendidikan anak menjadi fokusnya hingga ia selalu aktif mengelola rumah belajarya sebagai wadah untuk anak-anak agar memiliki karakter yang cerdas dan gemar membaca. Adapun karya-karya adalah The Story of A Tree (kumpulan naskah berbahasa Inggris) ,  terbit tahun 2013. Lalu buku pengajaran drama The Art of Drama, The Art of Life terbit tahun 2014. Lalu buku pengajaran sastra, The Art of Literature (Poetry and Prose Fiction) akan terbit akhir tahun ini. Karya berikutnya juga yang akan terbit akhir November adalah kumpulan cerpen “Perempuan Tanpa Nama” yang menjadi salah satu karya yang mendapat penghargaan Widya Pataka 2015 dari Badan Perpustakaan dan Arsip Propinsi Bali.

Bali yang Selalu Menginspirasi
“Bali sangat menginspirasi,” ungkapnya. Sonia besar dan hidup di Bali. Bali tak pernah habis memberinya inspirasi. Dari keunikan budayanya memberikan keindahan tertentu bagi Sonia saat meciptakan karya. Ia juga banyak melihat pola pikir dan prinsip hidup masyarakat Bali yang begitu kuat, juga cara menyelesaikan persoalan dalam kehidupan, serta cara melihat Bali dari sudut perempuan, itu yang terus ia gali hingga menciptakan karya. Harapannya untuk perkembangna sastra di Bali khususnya bagi penulis perempuan, Sonia berharap perempuan Bali bisa hidup mandiri. “Perempuan tidak bisa berharap dari pemerintah, atau sosial, dunia lain atau siapapun. Ia harus menentukan nasibnya sendiri,” jelas Sonia. Menurutnya, perempuan yang cerdas harus mandiri dan mencoba menggali potensinya tanpa berharap berlebihan dari orang lain.

Perjalanan Kreatif ke Australia dan Eropa
Sonia sempat menikmati perjalanan kreatif ke Australia, dalam kegiatan OzAsia Festival  pada 2013. Ia diundang menjadi satu di antara penulis perempuan dalam pertemuan penulis se-Asia Pasifik OzAsia Festival, di Adelaide. Sebelumnya, ia juga mendapat undangan berkunjung ke Griffith University, Gold Coast Australia tahun 2011 dan 2012, dalam rangka program penulisan kreatif. Di tahun 2014, proposal muhibah seni budaya yang melibatkan naskahnya Layonsari dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi hingga dikirim ke Belanda dan Prancis yaitu ke Windesheim University dan La Rochelle University.

Biodata:
Nama: Kadek Sonia Piscayanti
TTL: Singaraja, 4 Maret 1984
Pekerjaan: Dosen Pengajar Sastra di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja. Pendiri Mahima Institute Indonesia dan Komunitas Mahima.
 
Karya: Cerpen “Menu Makan Malam” (Jawa Pos, 2005), Cerpen “Karena Saya Ingin Berlari” (dimuat di Koran Tempo, 2006), Cerpen “Pada Suatu Pagi” (Suara Pembaruan, 2006),  Cerpen “Kosong” dimuat di Jurnal Cerpen Indonesia (Akar Indonesia, 2009), Cerpen “Laki-Laki Tua yang Ingin Mati” dimuat dalam antologi “Lobakan” (Koekoesan, 2009), Esai “Discovering Shakespeare in Singaraja” (The Jakarta Post, 2012), Cerpen “Langit ini Mengejekku” (Jawa Pos, 2013), Esai “Seni dalam Hidup, Hidup dalam Seni” (Bali Post, 2014). Ia telah menerbitkan buku kumpulan cerpen “Karena Saya Ingin Berlari” (Akar Indonesia, Yogyakarta, 2007), buku ajar sastra berbahasa Inggris “Literature is Fun” (Mahima Institute Indonesia, 2012), kumpulan naskah drama berbahasa Inggris “The Story of A Tree” (2014) dan yang akan terbit buku ajar drama berbahasa Inggris “The Art of Drama, The Art of Life”. Menjadi editor kumpulan puisi dan prosa penulis muda Bali Utara “Hadiah untuk Langit” (Mahima Institute Indonesia, 2012). Menjadi editor kumpulan puisi penyair Tuti Dirgha “Beri Aku Waktu” (Mahima Institute Indonesia, 2012).

Undangan: Mengikuti program Creative Writing di Griffith University, Gold Coast, Australia (2011 dan 2012). Diundang menjadi salah satu penulis perempuan dalam pertemuan penulis se-Asia Pasifik di OzAsia Festival, Adelaide Australia (2013). Menulis naskah dan menyutradarai pementasan hibah seni budaya program Dikti ke Eropa (Belanda dan Prancis, 2014). 

Buku Terbaru: Kumpulan Cerpen Perempuan Tanpa Nama (2015), dan pembelajaran sastra inggris The Art of Literature (Poetry and Prose Fiction).
 
*terbit di Koran Tribun Bali edisi Minggu 22 November 2015

afternoon tea



Saya ingat dulu ketika masih belajar di Bandung, saya tinggal di sebuah Asrama Putri, arsitektur bangunannya masih bergaya Belanda. Ibu asrama, Tante Nani saya memanggilnya, suka membuat minuman tradisional seperti wedang jahe, bandrek, dll. Saya paling suka ketika disuguhi teh tawar dengan sepotong gula aren. Ini merupakan salah satu tradisi minum teh yang saya suka. Tehnya diminum terpisah dengan gulanya. Seperti tradisi minum teh di Jepang, waktu itu ada acara "tea ceremony" di Wakayama University. Saya melihat bagaimana meracik green tea (matcha) dan cara meminumnya. Setiap langkahnya mengandung filosofi, bahkan cara memegang mangkuknya, mengandung makna penghormatan. Tehnya cukup pahit, sebagai pemanisnya kita harus memakan sepotong kue. Tentunya setiap tempat memiliki tradisi minum teh yang berbeda, di Indonesia sendiri, setiap daerah memiliki kekhasannya masing-masing. Seperti di rumah saya di taliwang, minum teh biasanya ditemani biskuit atau roti.
 
Ketika minum teh, saya suka minum teh tawar sambil membaca sebuah buku, biasanya buku puisi. Secangkir teh rasanya cukup manis ditemani puisi. Setelah ngeteh dan membaca, saya merasa rileks sehingga terkadang menulis beberapa hal tidak tentu, tergantung perasaan yang didapatkan saat meminum teh :D. Minggu ini saya berkesempatan menulis kisah perjalanan 3 perempuan hebat. Satu di antaranya terbit hari minggu ini, seorang penulis muda Bali yang kemarin mewakili Bali di sebuah festival menulis di Melbourne, Australia, Ni Made Purnamasari. Buku puisinya Bali-Borneo mendapat penghargaan sebagai Buku Pilihan Anugerah Hari Puisi 2014 dari Yayasan Sagang dan Indopos. Sore ini saya mendapat sms, kalau ia sudah melihat korannya.. Berkesempatan berbiacara dengan seseorang dan mendengar ceritanya memberikan banyak makna. Rasanya seperti sedang meminum teh di sore-sore ditemani puisi. Simple but meaningful.



 
Ni Made Purnamasari, Mencintai Bali Dengan Berkarya Sastra

Sejak duduk di sekolah menengah pertama, Ni Made Purnamasari aktif dalam kegiatan teater dan seni. Perempuan yang lahir di Klungkung, 22 Maret 1989 ini kini sedang melanjutkan studi magisternya di Universitas Indonesia mengambil jurusan Manajemen Pembangunan Sosial. Ia mendapatkan beasiswa penelitian dari Frans Seda Foundation dan Universitas Indonesia untuk melakukan riset sosial budaya bekerjasama dengan Universitas Tilburg, Belanda. Beberapa waktu yang lalu, perempuan yang akrab disapa Purnama ini juga diundang dalam Emerging Writers Festival 2015 di Melbourne, Pembacaan Sajak di Monash Asia Institute, serta Salihara International Literary Biennale 2015.

Lahir dan besar di Bali, menjadikannya perempuan Bali yang mencintai seni dan budaya. Setelah tamat SMA, Purnamasari melanjutkan studi di Universitas Udayana mengambil jurusan Antropologi. Kecintaannya terhadap Bali, memberikannya inspirasi dalam berkarya. Buku antologi puisinya yang berjudul Bali-Borneo menceritakan tentang pencarian. “Dari karya sederhana ke pencarian, dari cerita sehari-hari hingga pertanyaan tentang diri, juga keraguan akan kenyataan. Bali-Borneo mencerminkan semua hal tersebut. Sebuah jalinan imaji perihal pertemuan, pengembaraan, serta lirihnya igau lamunan,” ungkap Purnamasari. Antologi puisi ini keseluruhannya terinspirasi dari pulau dewata serta sebuah puisi yang bejudul Borneo. Pada 2014, buku ini mendapat penghargaan sebagai Buku Pilihan Anugerah Hari Puisi 2014 dari Yayasan Sagang dan Indopos.

Karya-karya puisinya pernah dimuat di Kompas Minggu, Koran Tempo, Media Indonesia dan Bali Post, juga telah dibukukan, termasuk dalam Buku Antologi 100 Puisi Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana 2007 serta buku antologi Temu Penyair 5 Kota di Payakumbuh yang berjudul “Kampung Dalam Diri”. serta Antologi Puisi Indonesia Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana (2008 dan 2009), Temu Sastrawan Indonesia (2010 dan 2011), Antologi Ubud Writers and Readers Festival (2010), Antologi ‘Couleur Femme’: Kumpulan Puisi Indonesia-Perancis yang diterbitkan Alliance Francaise Denpasar beserta Forum Jakarta Paris (2010) dan sebagainya. “Puisi yang saya tulis banyak bercerita tentang pengalaman saya dalam memaknai hidup. Saya tidak terfokus untuk membuat puisi mengenai satu tema tertentu. Apa yang saya temukan, apa yang saya rasakan, apa yang saya ingin ketahui dan bahkan apa yang saya ragukan, kadangkala mewujud dalam puisi,”  jelasnya.

Tidak hanya sukses berkarya dalam puisi, sejak masih remaja, cerpen-cerpennya juga pernah meraih beberapa penghargaan seperti nominator Sayembara Penulisan Cerpen se-Bali NTB, nominator Cipta Cerpen Majalah Kawanku, pemenang harapan utama Selsun Golden Award 2006, Juara II Sayembara Cerpen Balai Bahasa se-Bali, Harapan III Penulisan Cerpen Pusat Bahasa Jakarta serta dimuat di majalah Femina dan Bali Post Minggu. Gelar Juara Umum Lomba Penulisan dan Pembacaan Puisi Sampoerna AGRO 2007 se-Indonesia serta Juara II Lomba Penulisan Puisi Nasional Dewan Kesenian Semarang 2007. Dalam hal kepenulisan, Purnamasari sangat mencintai dunia ini, esainya juga meraih juara I Lomba Esai Global Warming yang diadakan oleh Kompas Gramedia Fair 2007. Selain itu, karyanya (esai biografi) juga telah dibukukan dengan tajuk ‘Waktu Tuhan: Wianta” (2007). Ia juga turut dalam program Penulisan Cerita Rakyat dari Pusat Bahasa Jakarta tahun 2010.

Tak hanya itu, ia pun kerap menjuarai berbagai perlombaan baca puisi, baca cerpen dan beberapa kali terpilih sebagai pemeran terbaik wanita dalam lomba drama modern di Kota Denpasar. Sastra adalah dunianya, sebuah ruang untuk berkarya dan mngenal makna kehidupan. “Dalam menulis sering menemui kebuntuan. Untuk mengatasi itu, saya suka berjalan-jalan. Saya senang mencoba rute angkutan umum yang baru, duduk di stasiun atau halte dan melihat orang-orang lewat,  saya pun mendapat ide ternyata sebuah kota, manusia, dan hidup punya banyak sisi yang tidak kita duga.”

Bersama teman-temannya, ia mendirikan Komunitas : Sahaja, sekaligus berperan sebagai koordinator. Komunitas ini tak hanya bergerak pada bidang penulisan kreatif, melainkan juga kerap menyelenggarakan berbagai kegiatan seni dan budaya, seperti pertunjukan teater, pameran seni, serta event kesenian lainnya. Pada 2009, ia pernah juga ditunjuk sebagai Koordinator KOMPAS-Muda Bali dan Udayana Science Club tahun. Purnamasari aktif bergiat di Bentara Budaya Bali, TEMPO Institute dan kurator fiksi-budaya di blog publik Indonesiana dari Tempo.co.

Perjalanan Sastra Mengunjungi Beberapa Daerah
Aktif berkarya dan tekun, membuat hasil tulisannya semakin baik sehingga Purnamasari banyak diundang dalam berbagai acara, baik pertunjukan maupun diskusi sastra, di Bali serta di beberapa daerah lain di Indonesia, seperti Malang, Surabaya, Yogyakarta, Padang dan Jakarta, termasuk diskusi dan peluncuran buku Antologi Cerpen ‘Lobakan’ di Goethe Institut Jakarta yang membahas kaitan antara sastra dan sejarah peristiwa 1965 di Bali (2009).
 
Perjalanan sastranya ini menambahkan banyak pengalaman bertemu dengan sastrawan-sastrawan Indonesia juga Asia Tenggara. Ia diundang mengikuti Program Penulisan Majelis Asia Tenggara (MASTERA): Esai yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa Jakarta (tahun 2009), Mentor Program Penulisan Esai dan Workshop Kepemimpinan Tempo-Institute (2010), Temu Sastra Mitra Praja Utama (MPU) tahun 2010, festival sastra internasional Ubud Writers and Readers Festival (2010), Temu Sastrawan Indonesia IV di Ternate (2011), program Penulisan Writers Journey bersama para penulis Australia (2012), dan Padang Literary Biennale 2014.

Mewakili Bali Dalam Ajang Penulis Australia
Perempuan kelahiran kelungkung ini terpilih sebagai partisipan program pertukaran bersama penulis Indonesia lainnya yaitu M. Aan Mansyur dalam Emerging Writers Festival Australia 2015 di Melbourne. Bertemu dengan para penulis dan bertukar ide, adalah hal yang paling dinanti. Menurutnya, bertemu untuk mendengar gagasan-gagasan mereka akan sangat menyenangkan, termasuk karya-karya terkini yang dibuatnya. Purnamasari yakin itu akan membantu untuk lebih mengenal kebudayaan masyarakat Australia di masa sekarang. “Ini pengalaman saya pertama kali ke Australia,” ungkpanya. Ia sangat antusias melihat bagaimana keseharian para penulis yang ternyata cukup berbeda dengan di Indonesia. Kebudayaan suatu bangsa selalu menarik minatnya, untuk menjelajah dan mengetahuinya lebih dalam lagi. Karenanya, kesempatan dan pengalaman yang diberikan untuk ikut dalam program ini merupakan hal yang begitu bermakna. “Saya sangat berterimakasih kepada Bali Emerging Writers Festival serta tentunya pihak dari Emerging Writers Festival di Melbourne,” jelasnya.
 
Sebagai penulis yang lahir dan besar di Bali, Purnamsari sangat gembira dengan munculnya para penulis muda, bukan hanya perempuan tapi juga laki-laki, karena mereka terus melakukan eksplorasi karya, hal yang telah secara mendalam dilakukan penulis terdahulu seperti Umbu Landu Paranggi, Frans Nadjira, Oka Rusmini, Cok Sawitri, Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, dll. Saat ini, ia sedang mencoba menulis novel yang sedang dalam proses editing. “Karya novel ini bercerita tentang seorang anak muda yang diminta menuliskan biografi salah satu seniman Bali yang sudah sepuh usianya. Dialog-dialog mereka mencerminkan hubungan antara generasi lama dan generasi muda di Bali, masa lalu pulau ini, juga kenangan-kenangan tentang orang-orang setempat,” jelas penulis yang mengagumi karya Robert Frost ini. Ia berharap, menulis sastra menjadi budaya yang lekat dengan generasi muda, bukan demi tujuan utaama menjadi sastrawan, namun untuk merawat kepekaan kreatif dan kesadaran atas nilai kemanusiaan. 
 
*terbit di Koran Tribun Bali, edisi Minggu 15 November 2015